Biarlah Damai Tumbuh Bersama Kami!

Man Shabara Zhafira

Keberangkatan ku ke pante cermen pada tanggal 15 Mei untuk Ansos sangatlah inspiratif bagiku,banyakhal yang kudapatkan disana dan semua itu kujadikan bahan intropeksi untuk membenahi diri dalam mengarungi kehidupan semasa usia muda ku ini.apa yang kulihat,kudengar,kurasakan,kubaca adalah point yang berarti bagi hidup ku saat ini.”Man Shabara Zhafira’’ siapa yang bersabar akan beruntung.itu mungkin pesan yang tepat buat mereka para penduduk desa Lango kec,Pante cermen yang setiap hari harus menapakkan kaki ke sawah hingga hutan rimba untuk menyapa kelompok flora dan fauna disana sehingga memperoleh rezeki yang halal untuk keluarga.

Setiap perjalanan ada nilai atau esensi yang selalu bisa didapat,ternyata hasil demikian pun kami dapatkan hanya dengan 2 warga saja yang kami wawancarai dikarnakan batas waktu yang sangat sedikit tapi kami yang tergabung dari beberapa sekolah,aku dari Mansa,rekanku hafizah Smanda dan cici dari Smantri ,kami siap menjadi wartawan sementara untuk mencari info mengenai pekerja warga setempat.

Wawancara pertama kami dengan seorang ibu rumah tangga yang bernama darmawan,meski terbesit dalam benakku namanya seperti kaum adam,karna adanya wan yang biasa ku ketahui wan adalah titel nama seorang pria,tapi tak terlalu kuhiraukan toh itu mungkin nama yang diturunkan oleh keluarga yang bersumber dari ayahnya,Hermawan jadi ketika ada anak perempuan di beri wan menjadi darmawan,heheee (senyumku,rahasia… buk darmawan seorang ibu rumah tangga yang belum dihadiahi oleh tuhan seorang anak,hari-hari dia hanya bersama suami tercinta yang setiap pagi harus berangkat kerja ke sawah dan ngupah untuk hasil nambah menutupi kebutuhan keluarga yang kurang itupun jika dipanggil untuk keperluan tenaga kerja tambahan.hasilnya mereka nikmati pada sore hari “jak bengoeh habeh seupot,leuh nyan…preh singoh bengoh loem,,ucapnya dengan senyuman sapaan seakan akrab dengan kami tem wawancara dan kami pun tersenyum terutama rekanku hafidzah yang udah mulai kenal tahap kode alam…hahaaaa (bahasa ku…dan pastinya kami ikut tersenyum seakan tersihir oleh kata-kata nya itu.

Seperti aturan main yang sudah disusun bahwa kami harus mewawancarai penduduk sebanyak yang bisa kami dapatkan,dan dan aku merasa kini saatnya pamitan ke ibu darmawan untuk melangkah dan bertemu warga yang lain yang akan kami wawancarai nanti,beberapa menit kemudian akupun melangkahkan kakiku untuk menuju kerumah warga yang kami rasa bisa untuk ditanyakan dan ia adalah seorang bapak bernama ibnu abbas, ia pun tergolong sebagai pekerja tani kesawah dan baiknya ia memiliki anak yang selalu siap membantunya kesawah untuk bertani,seorang istri yang ia miliki pun bersedia membantu suami tercinta ditambah iapun seorang pembabat disebuah PT didaerah tersebut,jadi bisa di bilang penghasilan double.

Dari sepanjang pembicaraan kami tak sengaja ku bertanya kenapa pak cik abbas siang ini tidak kesawah ternyata beliau sakit yang sudah hinggap padanya seminggu yang lalu….wah jadi tanda tanya besar donk ..??? kalau pak abbas tidak ke sawah,kira-kira gimana kebutuhan keluarga yang denger-denger katanya beliau juga sedang membiayai kuliah anaknya di salah satu perguruan tinggi kota meulaboh ? ya tuhan bisikku dalam hati… tapi beliau hanya tersenyum ketika mengucapkan beliau sedang sakit.jadi apa ada kendala untuk kebutuhan keluarga kalau bapak tidak ke sawah seperti ini ? tanyaku ingin tau….saya punya ibunya anak-anak yang bisa menutupi kebutuhan keluarga selama saya sakit,dengan mengupah atau berangkat menbabat hutan jika dipanggil,terang pak abbas dengan suara seakan nada berirama .itu meunyoe na” sahut istrinya.mendengar sahutan itu aku,kami an semua yang ikut ngobrol dengan kami tertawa bagai mendengar kata humor kapluek film di rumah tetangga ku yang bahasa nya indo Vs Atjeh,padahal aku sempat sadar di ayunan ketawa bahwa itu bahasa dari hati yang sedang bu abba sampaikan,untuk pertama kalinya pun aku hanyut dengan jawaban pasangan yang sudah tak layak dikatakan muda ini,sebelum pamit aku dan teman-teman kelompokku meminta maaf kalau mengganggu waktu pak abbas dan keluarga yang sedang duduk di depan rumah yang seakan menikmati pemandangan sawah yang terhampar didepan mata mereka.

Seluruh pertanyaan dan jawaban telah dicatat oleh rekanku cici dan hafizah kini kamipun harus bejalan lagi untuk mencari info baru yang nantinya akan kami presentasi di depan kelompok temen-temen lain yang wilayahnya pun berbeda-beda,sepanjang perjalanan kami tak mendapatkan orang yang tepat buat diwawancarai lagi sehingga waktupun telah mendekati pukul yang sudah disepakati untuk berkumpul,sekarang saatnya,waktu ini wajib disetiap kelompok mempresentasikan hasil analisanya di lapangan tadi.

Perkumpulan telah dibentuk makan siang siap santap secara berjama’ah,waktu dhuhur azan pun berkumandang semua pelajar saatnya melihat dan berbicara dengan sang khalik Allah SWT tanpa terkecuali.ba’da sholat dhuhur kami berkumpul dan siap untuk menampilkan ulasan yang kami dapatkan,kami bergantian menjadi fasilitator sekaligus motivator untuk mereka(teman) yang mendengarkan.

Aku mendengarkan semua presentasi dari teman-teman kelompok lain dan sesekali aku mencoba bertanya tentang hal yang tak ku pahami,dan aku berfikir untuk bisa menjadi pembicara yang tidak membosankan didepan nanti ketika kelompok ku yang maju,tapi sebelumnya aku dan teman-teman di team ku mencoba merundingkan siap dari kelompok 4 yang bisa dijadikan fasilitator untuk mempresentasikan hasil yang telah di dapat,hasilnya baik mereka memilih aku untuk yang menjadi fasilitatornya,dan aku berharap ini langkah untuk belajar menjadi nara sumber serta motivator yang handal seperti Aa gym dan Andy F,noya Host kick Andy yang ku lihat di acara TV rumah ku. Hmmm….

Kepercayaan teman-teman kelompok ku terhadap ku tidak ku sia-sia kan,dan tiba saa’t nya kelompokku maju kini kau harus siap mental dan aku membayangkan kini saa’tnya menjadi tokoh Ust.salman,seorang tokoh ustad di cerita novel Negeri 5 Menara kebanggaan alif,peran utama sekaligus penulis buku Negeri 5 Menara yang pernah kubaca.dengan selalu ada pembelajaran berbicara didepan orang di imbangi ke hati-hatian dalam mengucapkan kata-kata,aku menjelakan hasil dari wawancara kelompokku yang bertugas di desa Lango dan pastinya dibantu beberapa temen yang paham akan hasil wawancara kami.

Seperti biasanya dan aku paham kalau bebicara didepan teman yang sebaya pasti tidak terlalu serius dan nilai penting yang ingin tersampaikan pun terasa tak penting,tapi tak masalah’’pikirku…yang jelas aku sekarang mubaligh…..

Esensi yang kudapatkan diwawancara ku dengan warga lango pun kusampaikan dengan niat mengingatkan jiwa,dan orang-orang yang mendengar sekaligus membaca tulisan ku dengan sepenuh hati dan pikiran yang bersih.

7 point yang bisa memotivasi langkahku !

Ø Hidup itu anugrah

Ø Hidup itu ibadah

Ø Hidup itu mahal

Ø Hidup itu perang

Ø Hidup itu itu pencapaian

Ø Hidup itu akhir

Dan hiduplah dengan baik jangan kau sia-siakan,jika kau mengalami kesulitan ingat bahwa kau sedang diuji,dan itu ku pahami dengan kata “ Man Shabara Zhafira” siapa yang bersabar akan beruntung.

One response

  1. saatnya generasi mengenal damai yang tekah ada !

    20 Agustus 2010 pukul 10:54 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s