Biarlah Damai Tumbuh Bersama Kami!

Langkah Menuju Impian

Alam raya membentang, dibawah genangan awan-awan yang mecuram,hidup mengajarkan kependihan ,& hilauan orang-orang.Roda kehidupan terus berputar tak ada satupun yg dapat menghentikan,hanya waktu yang dapat membuktikan. Dengan masing-masing punya tujuan di hati dan tujuan yang pasti, satu persatu kami melangkahi kaki, Menuju tempat di mana kami harus mencari sesuatu yang berarti, sendara gurau menemani saat kami mulai mendaki,”Kamerapun beraksi”  artis yang tak tau kapan akan masuk TV.

Sedikit demi sedikit tempat yang kami datangi mulai menghampiri, tampak sekeliling pepohonan yang hijau,dan gunung yang tinggi seakan menyambut kedatangan kami,tanpa basa-basi kami mulai menggali sedikit demi sedikit  impian warga desa yang kami kunjungi ( pulo tengoh). Siang ini matahari menjulang tinggi, rasa letih menguras tenaga kami, kami coba berhenti sejenak untuk mengendorkan semua urat-urat yang ada di tubuh kami. Tanpa terasa cacing-cacing (perut)  mulai berdemo menuntut HAKnya .

Setelah beristirahat, kami melanjutkan perjalanan kami. Dengan langkah yang pasti kami menuju sebuah rumah yang berada di balik pegunungan yang hijau,sesampai di sebuah rumah yang beralaskan tikar kering kami duduk sejenak dan sedikit bertanya tentang impian ibu yang kita temui.  Di balik pertanyaan kami, tersirat impian  yang selama ini mereka harapkan yaitu modal usaha demi menstabilkan ekonomi keluarganya, karna menurut ibu tersebut tidak mungkin berharap dari hasil pertanian saja karna hasil pertanian Cuma cukup untuk makan sehari-hari, Itu pun kalau cukup, kadang-kadang mereka terpaksa membeli beras karna musim panen belum datang, mereka hanya menunggu musim panen tahunan, di sebab kan karna di desa tersebut belum mempunyai air penarek atau irigasi.

Kami mencoba untuk menggali lagi tentang kehidupan disana yang banyak kami belum ketahui, banyak kata yang harus di terbitkan untuk mencurahkan betapa megahnya ciptaan Tuhan yang Maha Esa. Keindahannya dusun Sangkadeun membuat kami ingin menguak beribu cerita untuk kami lestarikan. Saat kami berhenti di suatu dusun, ada seorang ibu menyapa langkah kami yang tetap menganggumi keelokan dusun Sangkadeun.

Saat  kami lagi berbincang-bincang dengan ibu itu, suatu pandangan yang unik dan menggangumkan mencuri bola mata yang sebelumnya ‘asik’ dalam keindahan. Seorang anak yang masih kecil mengangkat tumpukan rumput yang begitu besar dan mungkin berat dan ‘ogah-ogah’ bila anak zaman sekarang untuk melakukannya. Masya Allah, mungkin kami sadar bahwa kehidupan disini memang sangat dan sangat susah.

Matahari mulai mencoba menutupi langit-langit yang tadinya menerangi gunung yang ada di desa ini, Hingga hari ingin menggantikan malam dan kami pun melangkah untuk meninggalkan desa nan elok walaupun berat rasanya untuk melangkah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s