Biarlah Damai Tumbuh Bersama Kami!

Budaya Yang Terpendam

Dengan cara harus sering mengadakan atau memunculkan tarian – tarian atau Budaya aslinya di setiap acara peresmian/hajatan agar selalu tumbuh dan berkembang di dalam lingkungan masyarakat manjeng sehingga akan terus dapat terwariskan kepada generasi yang akan datang.

Oleh: Rico Wijaya (AA’ Wijay), Darma (AA’ Gundol), Hery (AA’ Hery), Cut Raidah , Novita Sari Yanti

Tepatnya pada tanggal 23 juni 2010 itu adalah hari pertama kami mulai ANSOS (Analisis Sosial) di Desa Manjeng . kami dari anggota kelompok tiga ditugaskan untuk menganalisis perkembangan kebudayaan yang ada di desa manjeng. Kami mempunyai 5 orang anggota kelompok yang tergabung dalam 3 laki-laki dan 2 perempuan. Kami mempunyai tugas untuk mewawancarai penduduk desa tersebut. Dan pada tanggal 24 juni 2010 kami memulai misi kami dengan mewawancarai seorang kepala desa di gampong manjeng yang bernama  Zainal Abidin. Bapak Zainal Abidin adalah seorang kepala desa yang tidak tergantikan di desanya. Buktinya beliau menjabat sebagai kades mulai tahun 2002 hingga sampai saat ini. Beliau dengan antusiasnya menjawab setiap pertanyaan-pertanyaan yang kami ajukan. Meskipun beliau belum terlalu mengenal kami, tetapi beliau mau menyambut kami dengan sangat ramah , kami mewawancarai beberapa hal yang menyangkut tentang budaya yang ada di desa manjeng. Banyak hal yang beliau jelaskan kepada kami tentang budaya yang ada di desa manjeng, menurut penjelasan beliau  bahwa sebelum konflik budaya MANJENG sangatlah kental dengan budaya aslinya.namun, setelah konflik melanda desa Manjeng, banyak terjadi perubahan di desa tersebut terutama menyangkut dengan  sisi budayanya. Ternyata telah banyak budaya luar yang mempengaruhi kelestarian budaya aslinya, sangat di sayangkan ternyata masyarakat manjeng telah hilang kesadaran untuk melestarikan budaya yang telah di wariskan oleh para leluhur kepada mereka. Sebenarnya budaya di desa manjeng itu sangatlah kaya akan budaya, buktinya di desa manjeng terdapat budaya seperti Rapa’I Saman, Ranub lampuan, Seukat, Seudati, Rapa’I daboh dll. Dan di desa manjeng terdapat seorang ceh sekat yang bernama ibu Rubiah. Dan Ibu Rubiah itu juga seorang ibu PKK di desa Manjeng. Dan di desa Manjeng itu juga ada di buat Rapa’I bertempat dirumah Bapak Sekdes Manjeng yang bernama Razuan. Pak keuchik manjeng sangat mengharapkan kepada para generasi penerusnya untuk bangkit melestarikan budaya asli dan tidak mudah terpengaruh dengan budaya luar / budaya barat… Dengan cara harus sering mengadakan atau memunculkan tarian – tarian atau Budaya aslinya di setiap acara peresmian/hajatan agar selalu tumbuh dan berkembang di dalam lingkungan masyarakat manjeng sehingga akan terus dapat terwariskan kepada generasi yang akan datang. Inilah hasil penelusuran dari kelompok kami di desa yang terpendam kebudayaannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s