Biarlah Damai Tumbuh Bersama Kami!

Rahasia Di Balik Bahasa

Oleh Nurhalimah

Sulit bagiku untuk beraktifitas bebas, dan berakrab-akraban dangan masyarakat di Beutung Ateuh , karena mayoritas masyarakat Beutung tidak terlalu familiar dengan bahasa Indonesia. Sepertinya saya harus mengikuti  les Bahasa Aceh tuch,,,cape dech……… (harap maklum kedua orang tuaku berasal dari Sukabumi Jawa Barat) Nah mungkin, hari ini memang aku  dituntut untuk benar-benar memper tajam insting about it……………

Hari itu, Rabu, 24 Maret 2010. Bagiku hari  itu adalah hari yang menyedihkan. Pertanyaan awancara yang sudah di siapkan semaksimal mungkin, ternyata gagal total. Hanya karena kurang mengerti dan tidak fasih berbahasa Aceh. Hal itu yang membuatku malu berbicara dan harus melalui  teman untuk mengungkapkan pertanyaan demi  pertanyaan. Ingin rasanya aku bertanya langsung tentang  ini-itu, tapi semua itu mustahil bisa di wujudkan.

Aku tiba-tiba berharap ada keajaiban yang membuatku tiba-tiba lancar berbicara “tanpa les”,,,(lebay dech, mana bisa?!)

Untunglah teman-temanku ini memang lancar berbahasa Aceh. Dan kami menyadari saling membutuhkan satu sama lain. Bahkan mereka bersedia menerjemahkan sepatah-dua patah kata, meskipun aku sadar telah merepotkan mereka. Al-hasil data yang kuperoleh nggak seperti yang kuharapkan. Berkali-kali aku bertanya hanya bisa  melalui temanku, (kayak turis aja, mesti ada yang translate bahasa….) Bagiku hal ini adalah kerja keras dan perjuangan.

Tapi sejak hari itu, aku dapat Ilmu baru untuk mempersiapkan diri dalam rangka berwawancara. Mungkin dalam wawancara sebelumnya, hanya perlu mempersiapkan pertanyaan, ngobrol basa-basi sedikit plus humor supaya lebih akrab dengan masyarakat, selebihnya merangkum catatan khusus lalu di data diolah untuk menjadi sebuah menjadi laporan yang lengkap.

Tapi…. ada yang perlu di siapkan jauh-jauh hari sebelumnya, yaitu mengeahui budaya, bahasa, masyarakat yang akan di wawancarai. Nah,itu dia ilmu barunya! Bicara soal bahasa acah, terkadang saya sendiri bingung memikirkannya.

Sebenarnya kalau mau belajar, pasti bisa. Pasalnya saya malas belajar makanya tidak bisa. Jujur saya akui bahasa Aceh sulit dan rumit cara pengucapannya. Entahlah, padahal aku lahir di acah, sejak kecilpun saya Di aceh, walaupun orang tuaku berasal dari luar Aceh.

Oleh karena itu, wawancara tersebut member kesan tersendiri buatku. Unik, rumit, dan menyedihkan. Pokoknya segudang  perasaan lain yang muncul hanya gara-gara bahasa. Ternyata inilah rahasia di balik bahasa. Yang baru disadari ketika dalam kondisi mendesak seperti itu.

Dulu, ketika masih sekolah dasar, aku berprinsip, toh bahasa persatuan itu bahasa Indonesia. Di mana-mana orang bisa bahasa Indonesia. jadi buat apa belajar bahasa daerah? Tapi ternyata  semua itu tidak benar. Setelah peristiwa tersebut, timbul niat dalam diriku untuk bersungguh-sungguh belajar bahasa Aceh. Karena aku tidak mau pengalaman menyedihkan seperti ini terulang lagi.***

3 responses

  1. suatu pembelajaran tuh…..bahasa aceh bahasa yang mudah dimengerti n dipelajari…tapi walau gimana pun juga…tetep donk bahasa indonesia raya…….chayoo

    21 April 2010 pukul 1:40 am

    • peaceandjusticeeducation

      thx ya thia atas komennya. sering2lah berselancar di blog ini.

      30 April 2010 pukul 5:30 am

  2. Inwattdweda

    co szukalem, dzieki

    29 Januari 2011 pukul 11:16 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s