Biarlah Damai Tumbuh Bersama Kami!

Calon Guru Junaidi

Rabu 24 Maret 2010, pukul 15.30 petang, Nurulaila Novita Maisarah, murid kelas V SDN 2 Beutung Ateuh Nagan Raya, bersama kedua temannya dengan napas terengah-engah menaiki anak tangga Pusat Komunitas Tanjungan di desa Meurandeh. Ketiganya menengok ke kiri dan ke kanan, seperti sedang mencari seseorang “Kami mau bertemu Ibu Sari” kata Maisarah. “Kami mau Ibu Sari mengajarkan lagi kepada kami bahasa Inggris” lanjutnya.

Sesekali kepala mereka menengok ke luar terali jendela.Tapi sayang, Ibu Sari yang dicari tidak dijumpai. Ketiganya, lantas, hanya bisa menunggu sambil membaca majalah Tempo dan beberapa bulletin Komunitas Kita yang tergelatak di atas tikar plastik. Tepat pukul 17.00 ketiganya pamit. Namun sebelum pergi Maisarah berpesan “Bilang ibu Sari ya, jangan pulang lagi ke Meulaboh. Biar ibu Sari tinggal di sini saja dan mengajari kami Bahasa Inggris” kemudian ketiganya pergi, sambil berharap ibu Sari kembali.

Rabu pagi, murid-murid SDN 2 Beutung Ateuh dikejutkan oleh kehadiran belasan guru baru. Mereka berhamburan keluar kelas ”guru baru…guru baru..guru baru..” Mereka hampir tidak percaya, karena sebelumnya tidak ada pemberitahuan jika sekolahnya akan kedatangan belasan guru baru. Tetapi, murid-murid yang berhamburan keluar kelas diminta masuk ke kelas masing-masing, agar belasan guru baru bisa memperkenalkan diri dan selanjutnya memulai belajar bersama.

Di masing-masing kelas para murid mengambil posisi santun. Mengucapkan selamat datang kepada para guru baru. Para guru baru membuka pelajaran dengan memperkenalkan diri lantas membuat kesempatakan dengan para murid untuk membahas mata pelajaran yang diminati sepanjang hari itu.

Di kelas satu, bersama para guru baru anak-anak belajar membaca dan menulis. Di kelas dua, mereka belajar tentang menyusun kalimat. Di kelas tiga anak-anak diperkenalkan tentang keindonesiaan dari lagu-lagu kebangsaan, peta kesatuan republik indonesia dan lambang negara. Di kelas empat anak-anak diajarkan matematika dengan rumus-rumus sederhana dan mudah dicerna. Selanjutnya di kelas lima, anak-anak diperkernalkan dengan kosa kata bahasa Inggris, tentang warna-warna, angka-ngka, buah-buahan dan ucapan selamat.

Sepanjang hari yang berkesan, sepanjang hari yang menyentuh, bukan hanya bagi para guru baru tetapi juga bagi ratusan murid SDN 2 Beutung Ateuh. Proses kelas yang komunikatif, saling berbagi dan tidak menggurui menciptakan ruang kelas yang menyenangkan.

Para guru baru menyadari betul bahwa mereka bukan guru yang sesungguhnya, karena mereka adalah siswa dan siswi dari enam sekolah di Meulaboh Aceh Barat yang datang ke Beutung Ateuh untuk belajar dan mengeksplorasi ilmu pengetahuan. Demikian juga, para murid SDN 2 Beutung Ateuh menyadari sungguh bahwa mereka sedang diperhatikan dengan nilai dan pengalaman belajar baru.

”“Kami mau Ibu Sari mengajarkan lagi kepada kami bahasa Inggris” seperti yang dipinta Maisarah bukan tanpa alasan. Maisarah menyadari sungguh bahwa dia dan kawan-kawannya di SDN 2 Beutung Ateuh butuh diperhatikan, bukan hanya oleh ibu Sari sendiri, tetapi juga oleh semua elemen masyarakat Aceh, secara khusus pemerintah. Perhatian pemerintah tidak hanya dititikberatkan pada pembangunan fisik sekolah, tetapi lebih-lebih pada penguatan kapasitas dan mutu para guru.

Menyadari pentingnya guru yang mau mengabdi secara total untuk pendidikan di Beutung Ateuh, Junaidi salah satu warga desa Babah Suak yang juga siswa kelas I SLTP Beutung Ateuh lantas bercita-cita mau menjadi guru yang bisa mengabdi di kampungnya sendiri. ”Saya mau menjadi guru, karena Beutung Ateuh butuh guru yang asli dari Beutung, agar secara serius memajukan pendidikan di sini” Kata Junaidi.

Cita-cita yang sama disampaikan oleh warga desa Blang Puuk. Bagi mereka jika pendidikan di Beutung Ateuh bisa berjalan dengan baik, proses kelas selalu terisi dengan berbagai aktivitas berdasarkan mata pelajaran yang sudah ditentukan, dan para murid lebih berkonsentrasi dalam belajar, maka memang harus ada guru yang mau mengabdi dengan total.

”Kebanyakan guru berasal dari luar Beutung, dan mereka harus pulang balik Beutung-Ule Jalan, Jeuram atau Meulaboh, jadi agak sulit untuk membagi waktu” kata salah seorang warga.

Lantaran itu untuk memajukan pendidikan di Beutung Ateuh, para murid dan juga warga mengharapkan agar pemerintah secara serius memperhatikan pendidikan di Beutung Ateuh, dan kepada warga sendiri harus memiliki kemauan yang kuat untuk mau belajar dan selanjutnya menjadi guru yang mau mengabdi di kampungnya sendiri. Beutung Ateuh.

Ibu Sari mungkin tidak akan kembali, tetapi calon guru Junaidi sudah sedang mempersiapkan diri dengan belajar yang rajin. Maisarah, lantas tidak harus menunggu bu Sari, karena kelak calon guru Junaidi sudah datang dan mau mengabdi dengan sepenuh hati.***

One response

  1. Adiy

    jdi tringat beutong ateuh dngan kuta teung0h. . .

    16 April 2010 pukul 9:04 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s