Biarlah Damai Tumbuh Bersama Kami!

Ada Pelangi Di Beutung Ateuh

Peserta Peace and Green Community dalam kesempatan kunjungan Analisis Sosial ke Beutung Ateuh Nagan Raya Nanggroe Aceh Darusallam. Insert: Satriani (Tia)

Oleh: Satriani , Peserta Peace and Green Community, Pelajar Kelas X SMK Negeri I Meulaboh, Aceh Barat

Berawal dari keingintahuan dan banyaknya pertanyaan yang tersimpan di dalam benakku, perjalanan ini kumulai. Meski kabut gelap melingkupi cahaya sang surya di puncak Singgahmata, rasa ingin tahuku tetap menggelora. Perjalanan ini kembali memberiku kesempatan untuk merasakan dan menghayati betapa nikmat alam ciptaan Sang Khalik. Ucapan syukur tak henti terucap dari bibirku, mengagumi keindahan tanah di mana aku dilahirkan, Aceh. Perjalanan ini akan membawaku ke suatu tempat dengan seribu tanda tanya: Beutong Ateuh.

Perjalanan selama kurang lebih empat jam akhirnya terhenti ketika kami sampai di Gampong Blang Meurandeh. Inilah Beutong Ateuh yang selama ini kukenal dari berbagai stigma negatif. Akhirnya sampai juga aku di tempat ini. Selama bersekolah di Meulaboh, aku mengenal Beutong Ateuh dari carita-cerita bernada miring seperti ada yang mengatakan bahwa Beutong Ateuh adalah sarang teroris. Ada juga yang mengatakan bahwa di Beutong Ateuh ada ladang ganja.

Semua stigma negatif tentang Beutong Ateuh ini mungkin tidak hanya terdengar di Aceh atau Indonesia saja, tetapi bisa jadi sampai juga ke negara-negara tetangga. Apakah stigma-stigma itu sesuai dengan keadaan sesungguhnya di Beutong Ateuh? Jangan-jangan orang Beutong Ateuh sendiri tidak semuanya paham apa itu teroris atau bagaimana bentuk ganja itu. Bagaimana pun juga stigma ini berlaku, bagiku Beutong Ateuh tidak mungkin dihapus dari peta Aceh.

Itulah anggapan orang tentang Beutong Ateuh yang kudengar di Meulaboh. Saat ini aku lebih tertarik bercerita tentang kesan-kesanku selama empat malam tinggal di Beutong Ateuh. Melihat alam Beutong Ateuh yang menawan, aku hampir tak percaya ketika mengetahui kenyataan bahwa kehidupan ekonomi dan pendidikan anak-anak di Beutong Ateuh cukup memprihatinkan. Inilah warna-warni kehidupan di Beutong Ateuh, di satu sisi masyarakat Beutong Ateuh memiliki alam yang indah dan tanah yang subur dan kaya, namun di sisi lain kehidupan ekonomi dan pendidikan anak-anak di sana masih memprihatinkan. Bagaikan lukisan pelangi, begitulah kenyataan yang kutemui di Beutong Ateuh. Berbagai warna kehidupan dari yang cerah hingga yang kelam kutemui di sini.

Salah satu warna cerah yang kutemui di Beutong Ateuh adalah semangat belajar anak-anak Sekolah Dasar Negeri 2 Beutong Ateuh yang kutemui di Gampong Blang Meurandeh. Walaupun fasilitas belajar yang tersedia sangat kurang, hal itu tidak menyurutkan semangat mereka untuk menimba ilmu di sekolah. Sebagian kecil dari mereka masih mengenakan pakaian seragam sekolah yang sudah tidak layak pakai karena bekas jahitan di sana-sini. Sebagian kecil lagi mengenakan kaus kaki yang hampir setengah bagiannya sobek. Begitu pula dengan sepatu yang hampir habis dimakan masa sehingga jari kaki kadang tampak keluar.

Akan tetapi semua keadaan itu tidak menyurutkan semangat belajar mereka. Mereka tetap datang ke sekolah di pagi hari, bahkan mereka datang lebih awal dari guru-guru mereka. Bila ini yang terjadi maka mereka akan memanjat pagar karena pintu gerbang sekolah dipegang oleh guru. Semangat belajar mereka yang luar biasa ini demi bakti mereka kepada orang tua, bangsa dan negara. Dengan semangat seperti itu, InsyaAllah meraka akan mendapatkan apa yang menjadi impian mereka.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita pun memiliki semangat seperti anak-anak itu? Atau kita malah menyia-nyiakan apa yang diberikan oleh orang tua kita. Orang tua yang membanting tulang siang dan malam untuk mencari nafkah guna memenuhi semua kebutuhan kita. Orang tua yang bahkan rela mengorbankan apa saja demi masa depan kita, bukan hanya harta benda tetapi juga nyawa mereka. Semua itu dilakukan oleh orang tua kita karena kita adalah titipan terindah dan karunia terbesar yang diberikan Allah kepada orang tua kita.

Apakah kita cukup memiliki kesadaran untuk membalas semua jerih payah dan pengorbanan orang tua kita itu? Apakah kita tetap menjaga semangat belajar dalam diri kita sama seperti semangat pantang menyerah anak-anak SD di Beutong Ateuh yang terus menimba ilmu di tengah situasi tanpa fasilitas yang layak? Apa yang sudah kita berikan kepada orang tua kita? Apa yang sudah kita kurbankan? Atau kita malah membuat hati merak hancur, membuat mereka menangis karena perkataan lidah kita yang tajam atau perbuatan kita yang mengkhianati perjuangan mereka untuk menyekolahkan kita.

Kita yang saat ini memiliki kesempatan untuk bersekolah dengan segala fasilitas yang cukup baik, atau bahkan sangat baik seharusnya bisa memberikan lebih baik dan lebih banyak prestasi. Sebagian teman-teman kita terpaksa putus sekolah untuk bekerja membantu orang tua mereka mencari nafkah untuk keluarga. Teman-teman kita itu telah kehilangan kesempatan untuk mengukir masa depan mereka karena tidak bisa bersekolah. Maka sudah selayaknya kita yang masih bisa bersekolah memanfaatkan kesempatan ini untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya seperti harapan orang tua kita.

Pengalaman empat hari di Beutong Ateuh mengingatkan aku untuk semakin tahu bersyukur atas kesempatan dan nikmat yang diberikan Allah kepadaku melalui tangan orang tuaku. Aku pun diajarkan untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan bersekolah ini untuk belajar agar kelak dengan ilmu yang kumiliki aku bisa membantu mereka yang berkekurangan.**

One response

  1. Ping-balik: Ada Pelangi Di Beutung Ateuh « Peace and Justice Education | ujian paket b

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s