Biarlah Damai Tumbuh Bersama Kami!

NELAYAN MEULABOH NASIBMU KINI: BELAJAR DARI KEHIDUPAN NELAYAN DI PESISIR MEULABOH

Awalnya rasa takut itu masih merasukiku. Namun hasrat untuk tahu yang tumbuh dalam diriku mampu mengalahkan rasa takut itu. Dan akupun membulatkan tekad untuk tetap melanjutkan belajarku pada Program Peace Education yang telah kuikuti sejak enam bulan lalu. Pada awal tahun ini, pihak sekolah memang “sudah lepas tangan” terhadap kegiatan ini dan tidak bertanggungjawab terhadap siswa yang masih mengikuti program ini, setidaknya sampai kegiatan ini dimulai hari ini, belum ada sinyal positif dari pihak sekolah. Aku memang ragu untuk melangkah ke depan dengan pilihanku ini, namun karena hasrat ingin maju, ingin tahu, dan yakin dengan pilihanku, aku memilih untuk tetap mengikuti Program Peace Education walau kutahu pasti akan ada risiko dari setiap pilihan yang kubuat. Dukungan dari orangtua setidaknya membuatku lebih yakin akan pilihanku ini.

Tibalah hari yang ditunggu itu. Minggu, 7 Februari 2010, kami akan mewawancarai nelayan di pesisir pantai Meulaboh. Hari itu, kami peserta Program Paace Education dari 6 SMA di Meulaboh berkumpul di kantor SUNSPIRIT. Saat tiba aku agak kecewa karena belum banyak yang hadir. Dari sekolahku tak banyak lagi yang tetap mengikuti kegiatan ini berhubung takut terhadap pihak sekolah. Namun, masih ada 4 orang yang masih mau mengikuti kegiatan hari ini. Teman-teman kami dari sebuah sekolah di Meulaboh bahkan sama sekali tidak hadir hari ini karena alasan yang serupa.

Pada pukul 10.00, kami start dari kantor SUNSPIRIT menuju Tempat Pelelangan Ikan (TPI) atau bisa disebut juga pajak ikan Ujong Baroh, Meulaboh. Setibanya di sana kami membentuk kelompok dan mengikuti petunjuk yang di berikan. Kami harus langsung terjun ke lapangan mewawancarai nelayan. Suasana TPI/pajak ikan yang panas terik dan bau yang tak nyaman kami hadapi dengan tekad yang kuat. Banyak nelayan yang sudah tahu kalau kami akan wawancarai mereka. Mereka tidak keberatan ketika kami meminta untuk wawancarai mereka. Kelompokku memilih salah seorang nelayan yang sudah 3 kali tertangkap di negeri orang karena terdampar saat mencari ikan. Kami mengajukan beberapa pertanyaan padanya. Dari berbagai pertanyaan tersebut, kami mendapatkan banyak pengetahuan baru yang belum pernah kami pelajari sebelumnya. Melalui wawancara ini kami belajar banyak hal dari kehidupan para nelayan di pesisir Meulaboh.

Beberapa pengetahuan baru yang kami dapatkan antara lain tentang cara penangkapan ikan yang ternyata membutuhkan waktu yang lama. Bahkan untuk sampai di daerah yang cocok untuk penangkapan ikan itu, ada nelayan yang membutuhkan waktu hingga berhari-hari. Dari cerita para nelayan kami mengetahui betapa beratnya pekerjaan seorang nelayan. Mereka harus meninggalkan keluarganya dalam waktu yang lama untuk mencari nafkah. Mendengar tuturan bapak nelayan ini aku disadarkan untuk tidak menyia-nyiakan hasil kerja keras mereka. Setidaknya aku bisa belajar untuk tidak membuang ikan lagi.

Hal lain yang kami dapatkan adalah pengetahuan tentang tempat penangkapan ikan. Daerah yang dekat dengan daratan bisanya terdapat ikan-ikan kecil. Sedangkan ikan-ikan besar terdapat di tengah lautan, semakin jauh semakin besar ikan yang didapat.

Pengetahuan yang sama sekali baru bagiku  adalah ternyata untuk berlayar nelayan itu harus memiliki surat ijin. Dan juga di laut pun ada “rambu-sambunya” seperti di jalan raya. Maksunya, untuk melaut nelayan harus melengkapi syarat-syarat yang ditenutkan. Di laut juga ada kawasan-kawasan yang telah ditentukan bagi nelayan untuk menangkap ikan. Jadi tidak bisa menangkap ikan sembarangan di laut lepas. Memang ada nelayan yang melanggar ketentuan ini. Asalkan tidak ada yg tahu dia telah melanggar peraturan ini, maka dia tidak tertangkap. Tapi kalau ada saksi mata yang mengetahui bahwa ada nelayan yang melanggar ketentuan wilayah yang boleh dan tidak boleh untuk menangkap ikan, maka sangsinya adalah hasil tangkapan harus dibagi kepada nelayan pemilik wilayan tangkapan yang dilanggar tadi.

Saat hari mendung atau ada badai di laut para nelayan tidak berani melaut. Nelayan tradisional di Aceh dan juga di Indonesia pada umumnya sangat bergantung pada alam. Bila alam tidak bersahabat maka mereka tidak melaut. Hal ini berbeda dengan nelayan-nelayan dari negara-negara yang sudah maju teknologi penangkapan ikannya, misalnya Jepang. Nelayan Jepang yang dilengkapi dengan kapal yang besar dan alat berteknologi tinggi tidak terlalu terpengaruh oleh keadaan alam. Mereka bisa melaut dengan leluasa karena mereka memiliki teknologi yang canggih. Kapankah ya nelayan Indonesia bisa seperti nelayan Jepang? Kira-kira siapakah yang harus membantu nelayan-nelayan kita supaya lebih maju?

Kalau kita berani bermimpi, kita juga harus berani bekerja keras untuk mewujudkan mimpi kita itu. Kalau kita bermimpi agar di masa mendatang nelayan-nelayan kita bisa lebih sejahtera hidupnya, kita juga harus mau bekerja keras untuk mewujudkannya. Tapi kalau para nelayan yang disuruh berjuang sendirian, rasanya mustahil mimpi ini akan menjadi kenyataan. Menurutku pemerintah dan masyarakat juga harus membantu para nelayan agar lebih maju. Negara kita kan negara kepulauan terbesar di dunia. Garis pantai kepulauan Indonesia adalah yang terpanjang di dunia. Kekayaan alam bawah laut kita termasuk yang terkaya di dunia. Tapi mengapa ya nelayan kita dari dulu belum sejatara hidupnya?

Ada lagi hal lain yang kami dapatkan, yaitu dalam pengawetan ikan, nelayan di pesisir Meulaboh hanya menggunakan es batu. Alhamdulillah, di Meulaboh nelayan tak menggunakan formalin. Bahkan di saat kami bertanya apakah mereka mengguankan formalin, mereka langsung menolak bahkan ada yang sangat marah mendengar pertanyaan kami itu. Mereka mengguanakan es batu. Es tersebut dapat membuat ikan bisa bertahan hingga berhari-hari di laut dan tidak membusuk.

Kami juga bertanya tentnag kualitas ikan. Ikan yang berkualitas dapat kita kenali ciri-cirinya seperti insangnya masih merah, kulitnya masih bercahaya, dan dagingnya masih tegang. Sedangkan ikan yang sudah tidak baik ciri-cirinya insangnya berwarna agak coklat dan juga dagingnya sudah lunak.

Kami juga bertanya pada nelayan jaring apa yang mereka gunakan. Mereka menggunakan jaring nilon dan juga jaring samsi. Mereka tidak menggunakan pukat harimau. Selain itu ada juga yang menggunakan pancingan. Hampir tidak ada yang menggunakan bom ikan, karena dapat merusak ekosistem laut. Banyak hal lain lagi yang kami pelajari dari kehidupan para nelayan ini. Ada saatnya ketika tidak mendapatkan hasil, mereka hanya bisa pasrah dan menerima apa adanya. Kata mereka, “Rezeki sudah diatur oleh Yang Di Atas.”

Selain pengalaman wawancara, ada satu pengalaman lain yang sangat berkesan bagi teman-teman kami yakni pengalaman naik boat/perahu motor. Beberapa dari kami memang belum pernah naik perahu motor nelayan dan kesempatan hari itu pun tidak disia-siakan. Teman-teman kami yang sebelumnya tidak pernah naik perahu motor akhirnya hari itu mendapat pengalaman baru.

Setelah selesai wawancara, kami berkumpul kembali di ruang pertemuan nelayan untuk berdiskusi dalam kelompok masing-masing dan menyiapkan bahan untuk presentasi kelompok. Kemudian setiap kelompok  mempresentasikan hasil wawancaranya kepada kelompok lain. Dari situ kami mendapatkan pengetahuan yang lebih banyak lagi dari kelompok lain dan juga dari kakak-kakak fasilitator.

Tak terasa jam menunjukkan pukul 17.00 WIB. Kini saatnya kami kembali ke rumah masing-masing setelah seharian belajar dari kehidupan para nelayan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Ujong Baroh.

Sesampainya di rumah aku menceritakan segala hal yang kudapat kepada orang tua. Dan betapa gembiranya aku karena orang tua mendukung aku mengikuti kegiatan ini. Dan seminggu kemudian aku lebih gembira lagi karena pihak sekolah telah merestui keikutsertaan kami dalam kegiatan ini.

Ditulis oleh Adinda

Siswi Kelas X SMA Negeri 2 Meulaboh, Aceh Barat

3 responses

  1. Adiy

    Adinda nak smanda y. . ? smanda memg the best. . .

    5 Maret 2010 pukul 9:53 pm

  2. jadi salut ma kamu smua’cwek mmg tp smpe hrs naik ke ats bot gtu.Ne jg ank melaboh lho tp drh batak n skrg jauh d neg orang.kangen rumah bgt,mo minta kmu buat lampirin foto2 melaboh,pasar ato apaja,terutma ttg kehidupan korban tsunami,thanks.

    24 Maret 2010 pukul 12:49 am

  3. sofie

    waaah jadi semangat nih buat wawancara nelayan..awalnya aku rada bingung juga takut merka ga mo ditanya2..yaaah jadi ga slesai2 tesisku.

    18 Desember 2010 pukul 4:12 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s