Biarlah Damai Tumbuh Bersama Kami!

MEREKA YANG HIDUP DARI HUTAN: BELAJAR DARI KEHIDUPAN PARA PENEBANG KAYU DI PANTON REU

Desa Mugo merupakan desa tempat dimakamkannya Pahlawan Nasional Teuku Umar Johan Pahlawan. Desa ini  juga dikenal sebagai desa yang pendudukannya  mencari nafkah dengan menjadi penebang kayu, entah secara  legal maupun ilegal.

Pada tanggal 21 Februari 2010, kami melakukan kegiatan ANSOS (Analasis Sosial) di desa Mugo. Perhatian kami tertuju kepada kehidupan para penebang kayu di desa Mugo. Setelah menumpuh perjalanan yang sedikit melelahkan, karena harus berdesak-desakan dalam bus, kami pun tiba di areal parkir Taman Makam Pahlawan Teuku Umar yang terletak di puncak sebuah bukit.  Sebelum  melakukan ANSOS, kami beristirahat sejenak. Ketika kami sedang beristirahat, kami agak terkejut melihat pembimbing kami bang Rully, yang biasanya murah senyum sedikit marah, ternyata hal ini tidak lain karena sebagian teman kami membuang sampah sembarangan. Tidak lama kemudian, senyum bang Rully pun terlihat kembali, dan kami pun melanjutkan kegiatan kami.

Petualangan kami dimulai dengan membagi peserta ke dalam 5 kelompok. Selanjutnya setiap kelompok bertugas  mencari dan mewawancarai setiap penebang kayu yang ada di hutan, yang sedang duduk-duduk di warung, yang sedang memotong kayu di kilang kayu, maupun yang sedang istirahat di rumah. Sesampainya kami di pemukiman penduduk yang dekat dengan kilang kayu, kelompok kami menemukan seorang penebang dan mulai mewawancarainya. Dari wawancara tersebut  kami mengetahui bahwa risiko menjadi penebang kayu tidaklah ringan. Mereka harus selalu berhati-hati dengan pohon yang tumbang dan gangguan alam lainnya seperti binatang buas dan cuaca. Kami juga mendapat pengetahuan tentang  jenis kayu yang ditebang  dan lamanya para penebang itu berada di dalam hutan ketika mencari dan menebang kayu.

Menurut mereka, menebang kayu tidak menimbulkan apa-apa, mungkin belum adanya pemahaman yang luas dalam diri mereka tentang bahaya menebang kayu yang ada di hutan. Mereka tidak tahu, jika hutan terus menerus ditebang akan gundul, dan bencana alam seperti banjir dan tanah longsor akan lebih mudah terjadi. Mereka hanya memikirkan kelangsungan hidup mereka, yang penting anak-anak mereka bisa makan dan bersekolah. Saya sedikit ragu, apa benar mereka tidak mengetahui akibat dari menebang hutan itu? Ataukah mereka pura-pura tidak tahu, demi rupiah yang ingin mereka dapatkan, hanya mereka yang tahu jawabannya.

Sebenarnya dalam ANSOS kali ini saya merasa ada yang berbeda, tidak seperti ANSOS sebelumnya yang kami lakukan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) tentang kehidupan nelayan. Situasi yang berbeda ini karena ada beberapa teman yang baru sekali mengikuti kegiatan  ini kurang serius. Mereka banyak bercanda yang tidak pada tempatnya dan susah “diatur”. Kenakalan mereka ini cukup mengganggu peserta yang mau serius. Sebagian teman berpendapat bahwa dia tidak mendapat pelajaran pada hari itu karena adanya “gangguan” dari teman-teman yang nakal tadi. Tapi saya secara pribadi merasa tetap mendapat pelajaran berarti dalam kegiatan hari ini walaupun memang tidak banyak seperti kegiatan sebelumnya.

Dalam sela-sela persiapan pulang saya terkesima dengan kata yang diucapkan Kak Iman, salah seorang fasilitator pada hari itu. Kak Imam berkata bahwa kami yang mengikuti kegiatan hari itu “merasa pandai” setelah melakukan wawancara, namun kami belum  “pandai merasa.” Maksudnya dengan mewawancarai para penebang kayu kami merasa lebih tahu tentang kehidupan mereka tetapi kami ternyata belum pandai merasa apa yang diraskan oleh para penebang kayu itu. Kami belum pandai merasa kesulitan dan jerih payah mereka dalam mencari nafkah untuk keluarganya. kami hanya pandai memakai hasil jerih payah mereka, yakni kayu yang telah dijual. Mendengar perkataan Kak Imam itu kami, terutama saya, berniat ingin mencoba lebih banyak belajar merasakan apa yang dirasakan oleh para penebang kayu itu. Menurut salah seorang fasilitator yang lain, tujuan pendidikan bukan saja untuk “mengasah” kepadaian otak kita tetapi juga “mengasah” hati nurani kita supaya bisa lebih peka dan peduli dalam melihat kehidupan masyarakat di mana kita berada, bukan hanya asyik memikirkan diri sendiri. Kegiatan ini bertujuan mengasah otak tetapi terutama mengasah hati nurani kita agar tidak tumpul ketika melihat sampah yang berserakan, misalnya.

Kegiatan kami hari itu berakhir setelah masing-masing kelompok mempresentasikan hasil wawancaranya kepada kelompk lain. Melalui presentasi ini kami dapat saling belajar dari pengalaman kelompk lain. Kegiatan ini berakhir pukul 17.30 WIB bersamaan dengan bergeraknya bus yang kami tumpangi menuju Meulaboh.

Ditulis oleh Adi Novanta

Siswa Kelas X SMA Negeri 2 Meulaboh, Aceh Barat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s