Biarlah Damai Tumbuh Bersama Kami!

KETIKA KAKIKU MENAPAKI SEUTAS TALI…

Semua ini berawal ketika saya mengikuti Pesantren Perdamain selama empat hari pada bulan Ramadhan tahun 2009. Dalam waktu empat hari, selain materi-materi Islami seperti Perdamaian dalam Islam, saya dan teman-teman peserta Pesantren Perdamaian juga belajar banyak hal lain seperti analisis koran dan presentasi, win-win solution sebagai prinsip dalam menyelesaikan konflik, mengolah stereotipe, prasangka dan diskriminasi, memahami keragaman, dan hidup bersama dalam perbedaan-perbedaan. Semua materi kami pelajari dengan metode menyenangkan yang diselingi dengan permainan-permainan yang bermakna dan berkaitan dengan tema pelajaran yang kami pelajari.  Dan pada hari penutupan kegiatan Pesantren Perdamaian, kami mengadakan acara buka puasa bersama. Dalam acara tersebut, saya diberikan sebuah penghargaan oleh SUNSPIRIT karena dinilai sebagai peserta terbaik dalam kegiatan Pesantren Perdamaian. Saya sangat bahagia .

Beberapa bulan setelah Ramadhan, saya dikabarkan oleh Staf SUNSPIRIT bahwa saya dipilih sebagai perwakilan dari siswa peserta Program Pendidikan Perdamaian di SMU Negeri 1 Meulaboh untuk ikut dalam kegiatan studi banding ke Deli Serdang, Sumatera Utara. Pada 7 – 10 November 2009. Selain saya dan Ibu Fatimah sebagai guru pendamping dari SMA Negeri 1 Meulaboh, ada beberapa orang perwakilan dari dua sekolah dan pesantren yang juga mendapat kesempatan menjadi peserta studi banding. Mereka adalah Desi Taria (siswi) dan Ibu Ridha (guru) dari SMA Negeri 2 Meulaboh, Zulham (siswa) dan Pak Rulli (guru) dari SMA Negeri 1 Bubon, Tgk. Basyarullah dan Musa muridnya dari Pesantren di Beutong Ateuh, Pak Udin sebagai perwakilan dari kelompok petani organik di Bubon yang di didampingi oleh SUNSPIRIT, serta satu orang peserta dari LSM KKSP.

Pada tanggal 7 November kami pun berangkat ke medan. Tempat yang akan kami kunjungi adalah Pesantren Daarul Fathir dan Sekola Alam Medan Raya. Selama 2 hari kami menginap di Pesantren Daarul Fathir. Di tempat tersebut kami mengikuti outbound (belajar di luar ruangan). Di Daarul Fathir banyak sekali permainan-permainan yang memacu adrenalin dan seru-seru. Namun itu bukan hanya sekedar permainan,tapi ada banyak manfaat yang terkandung di dalam permainan-permainan tersebut. Salah satu contohnya adalah comitmen bridge. Dalam permainan tersebut kita diajarkan untuk mempunyai komitmen yang kuat agar kita dapat mencapai tujuan kita. Walaupun kita menemui banyak rintangan/kesulitan, namun kita harus tetap berusaha sekuat tenaga untuk mencapai tujuan kita.

Ada juga satu permainan yang tidak kalah serunya yakni ketika saya harus berjalan diatas seutas tali dengan bantuan tali, setelah berhasil berjalan di atas seutas tali, saya masih harus melewati jaring-jaring, dan terakhir saya harus berjalan di atas sebatang pohon tanpa bantuan apapun. Saya takut sekali saat berjalan di atas sebatang pohon itu, namun dengan semangat yang diberikan oleh para peserta lain dan dengan menumbuhkan rasa percaya diri dan semangat yang kuat dalam diri saya, saya pun akhirnya berhasil melewati tantangan tersebut. Masih banyak lagi permainan yang saya ikuti dan peserta lainnya ikuti namun tidak mungkin semua dapat ceritakan dalam ruang yang terbatas ini.

Semua permainan yang kami mainkan memiliki maknannya masing-masing. Bahkan Pak Haji Erwin, sang pemilik Pesantren Daarul Fathir juga mengatakan bahwa setiap permainan itu bila direfleksikan dengan mendalam memiliki makna yang luar biasa, makna itu terutama diperoleh bila kita merefleksikannya dengan berpedoman pada Al-Qur’an. Setiap permainan itu sebenarnya selalu diawali dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an sebelum dijalankan oleh peserta. Dan setelah dimainkan selalu direfleksikan maknanya berdasarkan pada ayat suci Al-Qur’an dan pengalaman dan perasaan peserta yang mengalami permainan tadi. Saat itulah kita dapat menemukan makna terdalam dari permainan yang kita mainkan.  

Dari Pesantren Daarul Fathir saya mendapat pelajaran bahwa apabila kita mendapat sebuah tantangan dalam hidup kita, kita harus siap menghadapinya dengan penuh keyakinan dan berusaha sekuat tenaga menghadapinya, dengan demikian diharapkan kita akan berhasil melewati tantangan tersebut.

Selain makna dari setiap permainan, saya juga mendapat pemahaman baru bahwa manusia itu sesungguhnya mempunyai 9 jenis kecerdasan, dan semua permainan yang telah kami mainkan itu mewakili setiap jenis kecerdasan manusia. Melalui permainan tadi kami sebenarnya juga belajar mengenali kecerdasan yang kami miliki namun mungkin belum kami sadari.

Kemudia dari Pesantren Daarul Fathir, pada tanggal 9 November kami mengunjungi Sekolah Alam Medan Raya. Sekolah Alam Medan Raya terdiri dari TK dan SD. Di sekolah itu kami melihat anak-anak yang belajar di ruang terbuka. Di sana juga menggunakan metode belajar sambil bermain. Di sekolah alam, anak-anak juga diajarkan bagaimana mengelola dan menjaga lingkungan sekitar dengan baik. Di sana mereka mempunyai kebun dan dari kebun tersebut mereka belajar berbagai macam pelajaran. Misalnya, mereka menanam jagung, merawat, memanen, dan menjual jagung hasil panen. Mereka belajar IPA ketika menanam dan merawat jagung, mereka jadi tahu banyak dengan praktik langsung di kebun tentang tanah, air, batu, kayu, pupuk kompos, sampah plastik, akar, batang, daun, dan lain-lain. Dengan memanen dan menjual jagung yang mereka tanam mereka belajar Matematika dan Ekonomi. Dengan belajar langsung di kebun mereka jadi tahu capeknya jadi petani, jadi mereka belajar untuk menghargai orang lain dan bersyukur. Begitulah metoe belajar di sekolah alam: belajar dari alam dan belajar menghargai dan bersahabat dengan alam, karena dari alamlah manusia mendapatkan apa yang dibutuhkan dalam hidupnya.

Saya sangat tertarik dengan metode yang ada di Sekolah Alam Medan Raya karena di sekolah tersebut anak-anak tidak dipaksa untuk belajar. Karena menurut Ibu Laila, pengelola Sekolah Alam itu, setiap anak memiliki kepribadian dan potensi yang berbeda-beda sehingga tidak bisa di samakan satu dengan yang lainnya. Metode belajar yang menyenangkan membuat anak mau belajar tanpa paksaan dan bisa menikmati proses belajarnya karena metodenya menyenangkan.

Kegiatan studi banding ini berakhir ketika kami meninggalkan Sekolah Alam Medan Raya pada hari Rabu, 9 November 2009, pukul 20.00 WIB. Saya mendapat banyak pelajaran bernilai dalam kegiatan studi banding ini.

Ditulis oleh Adelia Dina Rizky

Peserta Program Peace Education

(Siswi  Kelas  X  SMA  Negeri  1  Meulaboh)

4 responses

  1. adiy

    wah…
    sru bnget p’rmainannya…
    jdi nyesal, nggk srius wktu psantren perdamaian…

    5 Desember 2009 pukul 3:06 am

  2. Die

    Assalamualaikum..
    Boleh saya tahu alamat Sekolah Alam Medan Raya?

    Terima kasih

    5 Februari 2010 pukul 9:12 pm

  3. eko soemantri

    kami tunggu kunjungan berikutnya dengan senyum semangat yang brsahabat,…
    smoga apa yang di dapat memiliki makna yang baik.

    we are wating 4 u’re,…

    26 Maret 2010 pukul 10:35 am

  4. eko soemantri

    salam dari kami keluarga besar Daarul Fathir,..

    26 Maret 2010 pukul 10:37 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s