Biarlah Damai Tumbuh Bersama Kami!

Ber-Kreta dan Ber-Prestasi

 Seorang teman pernah mengatakan bahwa di Meulaboh ini – dan bahkan sampai ke gampong-gampong – pada umumnya satu keluarga minimal memiliki dua kereta (baca: Sepeda Motor). Alasannya antara lain untuk mendukung mobilitas anggota-anggota keluarga yang memiliki ragam aktivitas yang berbeda, termasuk anak-anak yang setiap pagi dan petang pergi dan pulang sekolah.

 Bagi keluarga yang mampu, kareta yang khusus untuk anak yang bersekolah merupakan hal yang lumrah. Sehingga tidak heran bila iring-iringan kereta anak-anak sekolah menjadi pemandangan yang biasa di jalanan.

 Sebaliknya sangat jarang kita melihat anak sekolah yang mengayuh sepeda ke sekolah, sekalipun jarak antara sekolah dan rumah tidak lebih dari 1 km. Beberapa di antara mereka tahu bahwa bersepeda itu lebih menyehatkan namun tidak menggunakannya karena alasan praktis seperti lebih cepat, tidak berkeringat, dan lebih percaya diri bila menggunakan kereta. Hanya sebagian kecil pelajar yang menggunakan sepeda ke sekolah.

 Seorang ibu pernah bercerita bahwa ia dan suaminya perlu bersusah payah untuk membeli sebuah kereta baru (lagi) karena anak sulungnya yang beranjak SMA setahun yang lalu ngotot hanya mau ke sekolah bila punya kereta sendiri. Anak ini malu bila masih harus menumpang pada temannya. Masih cerita ibu tadi, dengan kereta barunya itu, anaknya justru semakin sering keluar rumah bersama kawan-kawannya.

 Ketika ditanya bagaimana dengan prestasi belajar anaknya di sekolah setelah memiliki kereta sendiri, dengan mengelus dada ibu itu menjawab, “Lebih buruk.” Ternyata kereta tidak membuat prestasi anaknya lebih baik, malah sebaliknya cenderung menurun.

 Cerita tentang ibu di atas menunjukkan bahwa di mata sebagian pelajar, selain pakaian seragam dan buku, kereta juga (telah) menjadi salah satu “tuntutan” mutlak bila hendak melanjutkan sekolah. Dan sebagaian orang tua terpaksa “menyerah” asal anaknya mau sekolah. Sebagian lagi mencoba mencari pembenaran atas tuntutan anaknya, sekalipun kenyataannya masih ada kebutuhan lain yang (pada saat itu) lebih penting bagi keluarga itu daripada sebuah kereta baru. Yang lebih parah adalah orang tua yang karena gengsi merasa malu bila anaknya tidak sama seperti anak tetangga yang ke sekolah dengan kereta. Jadi anak yang ke sekolah dengan kereta dengan sendirinya meningkatkan gengsi orangtua.

 Akan lebih produktif bila kepemilikan kereta oleh pelajar sebanding dengan prestasi belajarnya di sekolah. Jadi kereta bukan sekedar alat angkut yang membawa tubuh siswa sampai di sekolah, tetapi lebih dari itu, oleh penggunanya kereta perlu dilihat sebagai alat bantu yang membuat penggunanya lebih produktif di sekolah. Sangat disayangkan bila kereta yang mahal tidak lebih dari sekedar alat angkut yang mengangkut tubuh yang sama sekali tidak produktif. Jika itu yang terjadi, apa bedanya pelajar berkereta dengan balok-balok kayu yang diangkut becak?

 pendidikan-damai2Tiba di sekolah lebih cepat, tidak terlambat, lebih aktif di kelas, rajin membuat PR, rajin bertanya dan menjawab pertanyaan, tidak ngobrol di kelas, tidak menyontek, serius mengerjakan soal ujian, berpakaian sopan dan rapi, tidak bolos, mendapat nilai ulangan yang baik, dan berperilaku terpuji merupakan sikap dan perilaku produktif yang dapat dicontoh. Rasanya sebanding bila bisa bergaya ke sekolah dengan kereta baru sekaligus menjadi pelajar yang berprestasi, pelajar yang produktif. (Leo Dey/KK)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s